Realita Pendidikan Anak Desa


Saya kehilangan kata dan rasa, hanya mampu berpaling dalam bisu ketika meminta seorang siswa PKL yang “belajar kerja” diruangan saya untuk mengetik sesuatu di komputer. Butuh waktu yang cukup lama untuk melihat sebuah huruf dilayar karena Ia sibuk mencari letak huruf “a” di keyboard.

Kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika dinas di Tangerang. Saya tidak meremehkan anak PKL yang tidak tau dimana letak huruf “a”, kegalauan ini muncul karena anak PKL tersebut adalah anak SMK Jurusan Komputer. Hal ini tidak berhenti disitu, ketika saya memintanya untuk menulis beberapa catatan di buku kontrol dokumen, mata saya nanar melihat tulisannya yang tidak lebih baik dari tulisan anak saya yang duduk di kelas 3 SD saat itu.

Sekali lagi ini bukan untuk merendahkan, namun ada rasa miris ketika melihat kondisinya yang sudah akan menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan. Ia seharusnya telah memiliki life skill sesuai dengan jurusan yang ia tekuni dan siap memasuki dunia kerja. Saya berharap hanya ia seorang yang demikian, walaupun hati tak selaras dengan harapan itu.

Ini terjadi dilokasi yang hanya berjarak “sejengkal” dari Monas. Ditepi hilir mudik burung besi yang datang silih berganti dari berbagai penjuru dunia.

Ingatan saya menerawang pada detail kejadian tersebut ketika mendapati murid Ibu saya yang akan tamat Sekolah Dasar namun belum dapat membaca. Ibu saya berkisah, susahnya mengatur murid-muridnya karena tidak ada peran serta orang tua dalam pendidikan. Mungkin karena kesibukan mereka untuk memenuhi kehidupan sehari-hari disawah atau mungkin karena tingkat pendidikan mereka yang belum mencapai level untuk dapat terlibat dalam pendidikan anak disekolah.

Ini cerita dari salah satu desa di sisi selatan pulau Sulawesi

Apakah guru-guru termasuk ibu saya tidak peduli terhadap murid-muridnya sehingga terjadi kondisi yang demikian? Mereka bukan tidak peduli, mereka hanya khawatir menjadi objek kemarahan orang tua ketika “memaksa” murid belajar. Bahkan ada yang takut mengalami kejadian serupa dengan kolega mereka yang harus berurusan dengan pihak berwajib karena laporan orang tua.

Hal ini diperparah dengan kebijakan pemerintah yang tidak membolehkan murid “tinggal kelas”. Setiap anak secara otomatis akan naik kelas ke jenjang berikutnya tanpa harus lulus ujian semester. Bagi mereka, untuk apa belajar..toh sudah pasti naik kelas. Bagi orang tua, semua baik-baik saja karena anaknya naik jenjang secara rutin.

Akhirnya…

tugas guru dijalankan hanya sekedar untuk mengugurkan kewajiban

Memasuki masa pandemi covid19, proses mengajar semakin berat. Saya menyaksikan ibu saya yang harus bersusah payah menggunakan gawai untuk mengajar murid-muridnya. Kehidupan desa yang begitu kental dipaksa untuk bersinggungan dengan teknologi kekinian. Orang tua yang harusnya membantu anaknya belajar, malah terheran-heran melihat guru muncul dilayar handphone. Ucapan polos bercampur keluguan menghiasi suasana belajar sang anak.

Kebijakan pendidikan dengan menjadikan siswa perkotaan sebagai standar akan menghancurkan masa depan anak-anak pedesaan. Kurikulum yang dibangun dengan dasar keterlibatan orang tua dalam proses belajar akan semakin menenggalamkan masa depan anak-anak pedesaan. Kebijakan pendidikan masa pandemi covid19 dan setelahnya, jangan sampai hanya berfokus pada pemenuhan kuota gratis agar dapat melaksanakan pendidikan daring.

Semoga siswa SMK jurusan komputer yang tidak mengenal huruf “a” pada komputer hanya siswa PKL di tempat saya waktu itu seorang
Semoga murid yang akan lulus Sekolah Dasar namun tidak dapat membaca hanya murid Ibu saya seorang

Menjelang Hari Kartini,
Semoga fokus kita bukan hanya pada pendidikan perempuan, tapi pada kebangkitan pendidikan anak bangsa seluruhnya
Semoga fokus kita bukan hanya pada pendidikan perkotaan, tapi pada seluruh wilayah NKRI
Semoga setelah kegelapan habis, mentari akan bersinar menandai terbitnya terang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s