Pemuda Sebagai Katalisator Ekspor Dalam Pemulihan Ekonomi Nasional


Pandemi Covid 19 telah telah berlangsung hampir dua tahun dan belum menunjukkan akan selesai dalam waktu dekat. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kesehatan, namun juga telah merusak perekonomian masyarakat.

Berbagai program yang dijalankan pemerintah seakan berada diantara dua pilihan, menjaga kesehatan atau mendorong perekoniman. Kondisi masyarakat yang sudah bosan dengan pengekangan dan pembatasan ruang gerak juga ikut merumitkan proses penangananan wabah ini.

Dalam kondisi yang rumit ini, hidup terus berlanjut, walaupun harus dengan kompromi berbagai aturan sosial baru. Hidup berdampingan dengan covid 19 adalah jargon yang semakin sering terdengar. Selain itu, melalui proses vaksinasi, pemerintah menargetkan terbentuknya herd immunity dalam masyarakat.

Lebih lanjut, pemulihan ekonomi nasional juga menjadi target yang harus dicapai agar kehidupan masyarakat dapat kembali normal dalam suasana baru. Berbagai upaya dilakukan, mulai pemberian insentif usaha, dispensasi perpajakan sampai dengan mendorong peningkatan ekspor. Upaya yang disebutkan terakhir, diharapkan berdampak signifikan pada kesejahteraan masyarakat.

Ekspor merupakan bagian penting dalam proses perdagangan antara negara dan dapat secara signifikan mengerakkan perekonomian serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Potensi pasar ekspor sangat besar jika dilihat dari jumlah penduduk yang berpotensi menjadi pembeli. Jika dilihat dari data statistik, 97% calon pembeli berada diluar negeri dengan Tiongkok sebagai negara dengan potensi pembeli terbesar sejumlah 1,4 Milyar penduduk atau 18% dari total potensi pembeli diseluruh dunia. Pada urutan selanjutnya, diisi oleh India dan Amerika Serikat dengan masing-masing 17% dan 4,3%. 

Memanfaatkan Generasi Muda

Generasi muda dengan range usia antara 16-30 tahun berjumlah 61,8 juta orang atau 24,5 % dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta orang (BPS, 2014). Angka ini cukuplah besar secara kuantitas, ditambah lagi pada periode tahun 2020 sampai 2035, Indonesia akan menikmati suatu era yang langka yang disebut dengan Bonus Demografi. Jumlah usia produktif Indonesia diproyeksikan berada pada grafik tertinggi dalam sejarah bangsa ini, yaitu mencapai 64 % dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 297 juta jiwa .

Generasi yang saat ini dikenal sebagai generasi milenial memiliki potensi untuk memunculkan ide-ide kreatif dan dapat berpikir out of the box. Mereka mampu memunculkan ide yang yang belum terpikirkan oleh generasi sebelumnya. Hal ini dapat terlihat dari munculnya berbagai bidang usaha baru dengan unsur kreatif didalamnya. Contohnya Brodo Footwear atau Brodo yang didirkan oleh Yukka Harlanda dan Putera Dwi Karunia . Mereka memproduksi sepatu kulit yang sudah umum menjadi hasil industri, namun yang berbeda adalah cara pemasaran yang dilakukan.

Bahkan, Carline DarjantoditetapkanForbes sebagai orang sukses di bawah umur 30 tahun, bidang Retail & E-Commerce di Asia. Penghargaan yang diberikan adalah “30 Under 30 Asia”, penghargaan bagi mereka yang sukses pada bidang Art, Healthcare & Science, dan Marketing & Advertising di kawasan Asia. Ia sukses melalui brand produk fashion bernama Cotton Ink

Potensi kreatif yang dimiliki oleh generasi muda dapat juga dimaksimalkan untuk meningkatkan kegiatan ekspor khususnya dari segi peningkatan nilai barang. Melalui ide kreatif meraka, komoditi yang selama ini diekspor dalam bentuk bahan baku diharapkan mampu diolah menjadi produk yang lebih bernilai secara ekonomi. Potensi finasial dari kegiatan ini akan menjadi motivasi tambahan karena sangat menguntungkan untuk diri sendiri dan masyarakat.

Mereka akan menjadi motor penggerak dalam kegiatan ekonomi khususnya kegiatan ekspor ditengah masyarakat. Hal ini karena pergerakan pemuda dapat berpengaruh secara luas dari aspek sosial hingga ekonomi . Kutipan umum yang sering dilihat diberbagai tulisan terkait generasi muda adalah kutipan Bung Karno, Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.

Keterlibatan pemuda pada pergerakan ekonomi sebenarnya sudah terjadi sebelum era millenial. Pada awal tahun 1995, brand Hush Puppies yang hampir mati pada tahun sebelumnya mendadak menjadi sangat terkenal dan digunakan banyak desainer amerika. Hal ini tidak lepas dari peran pemuda di East Village dn Soho, Manhattan, Amerika Serikat. Mereka menggunakan brand tersebut karena keinginan tampil berbeda dan itu mempengaruhi masyarakat untuk menggunakan brand yang sama.

Pada era industri 4.0 saat ini, peran pemuda menjadi lebih besar dalam pergerakan ekonomi. Hal ini karena banyaknya perusahaan berbasis pada internet marketing. Beberapa diantara mereka bahkan menjadi perusahaan dengan valuasi yang sangat besar seperti gojek, tokopedia, bukalapak, dll. Persamaan diantara semua perusahaan tersebut adalah model bisnis yang tidak dikenal oleh generasi sebelumnya.

Kaum muda dan internet saling mempengaruhi dalam produksi dan konsumsi . Melalui postingan di media sosial, mereka dapat mengubah hidup orang lain. Beberapa penjual makanan yang sepi pembeli bisa mendadak sangat ramai hanya karena sebuah postingan yang viral. Bahkan terdapat platform khusus seperti kitabisa.com yang khusus dibuat untuk mengajak orang lain membantu sesama.

Pemuda dalam kegiatan ekspor tidak melulu harus terjun langsung sebagai pelaku dalam kegiatan ekspor. Setiap peran kecil akan berarti besar dalam proses pemulihan ekonomi yang akan berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan yang cukup mudah untuk dilakukan antara lain :

  1. Tunjukkan pada masyarakat tempat untuk bertanya terkait kegiatan ekspor, salah satunya adalah Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai terdekat
  2. Sebarkan informasi terkait ekspor melalui media sosial masing-masing. Hal ini dapat dilakukan men-follow akun khusus peningkatan ekspor seperti IG : exportassistance dan melakukan re-share informasi-informasi terkait ekspor
  3. Mendorong masyarakat yang berada disekitar tempat tinggal masing-masing untuk mengenal kegiatan ekspor
  4. Melihat potensi ekspor disekitar tempat tinggal masing-masing dan memberikan informasi tersebut ke Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai terdekat, Pemerintah Daerah  atau Instansi Pemerintahan lainnya yang terkait.

baca juga : Syarat Legal Menjadi Eksportir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s